Menelusuri Streets of Rage 4: Kebangkitan Legenda Beat Em Up Klasik – Dunia video game penuh dengan seri legendaris yang meninggalkan jejak mendalam di hati para pemain. Salah satu di antaranya adalah Streets of Rage, seri beat ‘em up klasik yang lahir di era 1990-an dan menjadi ikon di konsol Sega Genesis. Setelah hampir dua dekade tanpa kabar, waralaba ini akhirnya kembali lewat Streets of Rage 4, yang dirilis pada tahun 2020. Kehadiran game ini bukan sekadar nostalgia, tetapi juga bukti bahwa gaya permainan klasik masih bisa bersinar di tengah dominasi game modern berteknologi tinggi.
Dengan memadukan gaya retro dan sentuhan modern, Streets of Rage 4 berhasil menarik thailand slot perhatian baik penggemar lama maupun pemain baru. Game ini bukan hanya sebuah reboot, tetapi juga bentuk penghormatan kepada warisan seri aslinya yang begitu berpengaruh di dunia beat ‘em up.
Sejarah Singkat Seri Streets of Rage
Sebelum membahas lebih dalam tentang seri keempatnya, penting untuk menengok sedikit ke belakang. Streets of Rage pertama kali dirilis pada tahun 1991 oleh Sega. Game ini bercerita tentang tiga mantan polisi—Axel Stone, Blaze Fielding, dan Adam Hunter—yang berjuang melawan kejahatan yang menguasai kota mereka. Konsep sederhana ini dipadukan dengan sistem pertarungan jalanan yang intens, musik elektronik khas era 90-an, serta mode co-op dua pemain yang seru.
Kesuksesan besar seri pertama membuat Sega melanjutkannya dengan Streets of Rage 2 (1992) dan Streets of Rage 3 (1994). Kedua sekuelnya memperluas gameplay, menambah karakter, dan memperkaya mekanisme pertarungan. Namun setelah itu, seri ini menghilang cukup lama karena perubahan arah industri game dan berakhirnya masa kejayaan Sega sebagai produsen konsol. Baru pada 2020, penggemar akhirnya mendapat kabar gembira lewat Streets of Rage 4.
Proses Kelahiran Kembali: Kolaborasi Antargenerasi
Streets of Rage 4 dikembangkan oleh tiga studio: Dotemu, Lizardcube, slot bonus new member dan Guard Crush Games. Ketiganya memiliki pengalaman dalam menghidupkan kembali game klasik dengan gaya baru. Dotemu, misalnya, dikenal lewat Wonder Boy: The Dragon’s Trap, sebuah remake sukses dari game retro lain milik Sega.
Kolaborasi ini menghasilkan keseimbangan yang luar biasa antara rasa klasik dan tampilan modern. Para pengembang tidak berusaha mengubah DNA asli Streets of Rage, melainkan memperbaruinya agar tetap relevan bagi pemain masa kini. Mereka menggunakan teknologi baru, tetapi tetap menjaga feel khas permainan jalanan yang menuntut refleks cepat, kerja sama, dan strategi.
Alur Cerita: Ancaman Baru di Kota yang Sama
Cerita Streets of Rage 4 berlangsung sepuluh tahun setelah peristiwa di game ketiga. Setelah kekalahan Mr. X—antagonis utama dalam seri sebelumnya—kota tampak aman. Namun kedamaian itu tidak bertahan lama. Kini muncul ancaman baru: sepasang saudara kembar, Mr. dan Ms. Y, anak dari Mr. X, yang berusaha mengambil alih kota melalui kekuatan geng kriminal dan pengaruh musik hipnotis.
Axel dan Blaze kembali beraksi, kali ini dibantu oleh karakter baru seperti Cherry Hunter (putri Adam Hunter) dan Floyd Iraia (murid Dr. Zan dari Streets of Rage 3). Seiring perkembangan cerita, Adam pun kembali bergabung setelah sekian lama absen. Meskipun plotnya sederhana, cerita ini cukup efektif untuk menjadi latar bagi aksi intens dan penuh gaya di setiap level.
Gameplay: Nostalgia yang Diperhalus
Sebagai game beat ‘em up, inti dari Streets of Rage 4 adalah bertarung melawan gelombang demi gelombang musuh yang datang dari segala arah. Pemain bisa bermain solo atau bersama teman dalam mode co-op lokal maupun daring. Tujuan utamanya sederhana: kalahkan semua musuh di setiap tahap hingga mencapai bos di akhir level.
Namun di balik kesederhanaannya, gameplay Streets of Rage 4 terasa sangat halus dan memuaskan. Setiap karakter memiliki gaya bertarung unik:
- Axel Stone dengan serangan kuat dan seimbang.
- Blaze Fielding yang lincah dan cepat.
- Cherry Hunter dengan kemampuan menyerang sambil berlari dan gaya bertarung energik.
- Floyd Iraia yang lambat tetapi memiliki jangkauan serangan luas.
- Adam Hunter, kembali dengan gaya bertarung klasik yang kini terasa lebih elegan.
Game ini juga memperkenalkan sistem combo dan juggling yang lebih dalam dibanding versi terdahulu. Pemain bisa menghubungkan serangan biasa dengan serangan spesial untuk menghasilkan poin tinggi. Uniknya, setiap serangan spesial akan menguras sebagian nyawa karakter, tetapi nyawa itu bisa dipulihkan jika pemain terus menyerang tanpa terkena pukulan. Mekanisme risiko dan imbalan ini menambah kedalaman strategi dalam permainan.
Visual dan Desain Artistik: Perpaduan Retro dan Modern
Salah satu aspek paling mencolok dari Streets of Rage 4 adalah tampilannya. Alih-alih menggunakan grafis piksel seperti seri klasik, game ini mengusung gaya hand-drawn art (gambar tangan) dengan animasi yang halus. Setiap karakter dan latar memiliki detail warna yang memanjakan mata, memberikan nuansa seperti membaca komik aksi hidup.
Meski tampil modern, desain visualnya tetap mempertahankan semangat retro. Lokasi-lokasi seperti gang gelap, stasiun kereta, dan klub malam penuh warna menjadi latar yang tidak hanya indah tetapi juga kaya nuansa. Bahkan, para pengembang menyertakan opsi untuk membuka karakter dari seri lama dengan gaya piksel 16-bit, sebuah sentuhan nostalgia yang sangat dihargai penggemar lama.
Musik: Detak Jantung Pertarungan Jalanan
Tak lengkap membahas Streets of Rage tanpa menyinggung musiknya. Seri ini terkenal berkat komposisi elektronik yang digarap oleh Yuzo Koshiro dan Motohiro Kawashima. Untuk Streets of Rage 4, keduanya kembali berkontribusi bersama sejumlah komposer modern seperti Olivier Deriviere.
Hasilnya adalah perpaduan luar biasa antara gaya elektronik retro dan modern. Setiap tahap memiliki irama khas yang memacu semangat pemain. Musiknya bukan hanya latar, tetapi menjadi bagian penting dari identitas game ini—menghidupkan suasana kota yang kacau, penuh bahaya, namun juga memikat.
Mode Permainan dan Fitur Tambahan
Selain mode cerita utama, Streets of Rage 4 menawarkan beberapa mode tambahan:
- Arcade Mode – pemain menuntaskan game hanya dengan satu credit, mirip dengan mesin arkade klasik.
- Boss Rush Mode – menghadapi semua bos secara berurutan.
- Versus Mode – dua pemain saling bertarung.
- Online Co-op – bermain bersama teman dari jarak jauh.
Game ini juga memiliki sistem unlockable yang menarik. Pemain dapat membuka karakter dari seri lama, masing-masing dengan gaya visual dan gerakan khas era 16-bit. Ada pula konten tambahan melalui DLC, seperti Mr. X Nightmare, yang menambah karakter baru dan mode pelatihan mendalam.
Penerimaan dan Dampak
Ketika dirilis, Streets of Rage 4 mendapat sambutan hangat dari kritikus dan pemain. Banyak yang memuji bagaimana game ini berhasil menghidupkan kembali genre beat ‘em up tanpa kehilangan pesona klasiknya. Visual yang indah, sistem pertarungan memuaskan, serta musik yang menawan membuatnya dinobatkan sebagai salah satu revival terbaik dalam sejarah game retro.
Game ini juga berkontribusi dalam membangkitkan kembali minat terhadap genre beat ‘em up, yang sempat redup di era modern. Keberhasilan Streets of Rage 4 membuka jalan bagi kebangkitan judul serupa, seperti Teenage Mutant Ninja Turtles: Shredder’s Revenge dan Final Vendetta.
Kesimpulan: Sebuah Kebangkitan yang Layak Dirayakan
Streets of Rage 4 adalah contoh sempurna bagaimana game klasik bisa dihidupkan kembali tanpa kehilangan jiwanya. Ia menghormati masa lalu sekaligus melangkah ke masa depan dengan percaya diri. Setiap elemen—mulai dari gameplay, visual, hingga musik—dirancang dengan penuh cinta terhadap seri aslinya.
Game ini bukan sekadar nostalgia; ia adalah bukti bahwa kesederhanaan yang dieksekusi dengan sempurna bisa tetap relevan di era penuh teknologi canggih. Bagi penggemar lama, ini adalah reuni yang memuaskan. Bagi pemain baru, ini adalah pintu masuk ke dunia beat ‘em up yang seru, menantang, dan penuh gaya.
Dengan keberhasilan Streets of Rage 4, dunia game membuktikan satu hal penting: legenda sejati tidak pernah benar-benar mati—mereka hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali beraksi di jalanan.